3 Cara Menyederhanakan Strategi Pemasaran Online

 

Kami ingin membuka post ini dengan sebuah pertanyaan: Menurut Anda, berapa banyak iklan yang ditampilkan di hadapan Anda setiap harinya?

Sebuah penelitian mengemukakan, orang awam rata-rata terpapar 247 iklan setiap harinya. Angka yang cukup mengejutkan, bukan? Apakah Anda menyadari bahwa selama ini Anda secara konstan terpapar dengan iklan sebanyak itu? Mungkin saja tidak, karena dari sekian ratus iklan yang Anda lihat setiap hari, kurang dari 10%-nya saja yang benar-benar Anda simak, dan akhirnya Anda ingat.

Inilah gambaran betapa ketatnya persaingan untuk merebut kesadaran (awareness) di mata konsumen. Pada akhirnya, konsumen akan sampai pada titik jenuh, karena terlalu sering terpapar dengan berbagai jenis iklan dan promosi. Di sisi lain, para pemasar juga kelimpungan mencari strategi pemasaran yang lebih baik, mengingat harga untuk produksi dan penempatan iklan di media massa terus meninggi.

Sebenarnya, solusinya sederhana saja: Carilah bentuk pemasaran yang simple, dan hindari yang ribet. Terlebih, jika kita bicara soal strategi pemasaran online. Jangan biarkan dana promosi Anda terbuang percuma hanya untuk menempatkan iklan yang bahkan tidak akan dilirik oleh pengunjung potensial Anda.

Contohlah apa yang telah dilakukan oleh dua perusahaan raksasa, Google dan Apple. Ingatkah Anda strategi apa yang diterapkan oleh alm. Steve Jobs ketika ia bergabung kembali dengan Apple di tahun 1997? Ya, dia menyederhanakan lini produk yang dipasarkan Apple, dan kemudian perlahan-lahan menghembuskan napas kesederhaan tersebut ke keseluruhan bisnis Apple. Terbukti, strateginya sangat manjur, dan membawa Apple menjadi salah satu perusahaan teknologi paling disegani saat ini.

ipad

Raksasa mesin pencari online, Google, juga menerapkan strategi yang serupa. Dalam kurun waktu tertentu, Google akan mulai mengesampingkan produk-produk yang dianggap kurang sukses di pasaran untuk memfokuskan diri pada pengembangan produk-produk unggulannya.

Sebagai pelaku bisnis dan tenaga pemasaran profesional, ada baiknya kita mencontoh langkah yang sudah ditempuh dua perusahaan multinasional tersebut. Sebelum Anda terlalu terobsesi dengan dampak iklan, dan akhirnya berdebat kusir dengan pihak agensi yang terfokus pada nilai impresi iklan. Anda perlu menelaah, apakah fokus Anda sudah diletakkan di tempat yang tepat? Dengan menerapkan stategi pemasaran online yang simple, berfokus pada menghadirkan iklan-iklan dan konten yang mengena, dan menarik konsumen untuk ikut berinteraksi, Anda sudah berjasa mengantarkan industri Anda ke arah yang lebih baik, baik bagi konsumen, maupun bagi perusahaan Anda sendiri.

Berikut ini 3 langkah yang bisa diterapkan oleh pemilik brand untuk menyederhanakan strategi pemasaran online-nya untuk kepentingan semua pihak yang terlibat.

1. Berikan keleluasaan bagi konsumen untuk ikut menentukan

draw-2-beautiful-tshirt-designs

Jika selama ini Anda memusatkan perhatian pada strategi dan matriks yang relevan untuk branding – padahal kenyataannya belum tentu mendatangkan dampak sesignifikan itu. Kini saatnya Anda untuk mundur sejenak, dan telaah langkah yang sudah Anda ambil selama ini. Pemilik brand selalu mencari angka dan data untuk menjustifikasi pengeluaran besar yang telah mereka kucurkan untuk beriklan. CTR, view-through, atribut, “like”. Namun, apakah semuanya itu masuk akal? Coba ingat kembali masa-masa di mana dunia pemasaran online belum ada, apakah pemilik brand akan ngoyo memperhitungkan impresi yang akan mereka peroleh saat memasang iklan sehalaman penuh di majalah Vogue, misalnya? Di sinilah duduk permasalahannya, di mana pemilik brand terlalu sibuk menghitung angka-angka, sehingga kurang memberi perhatian pada konten iklan yang menarik dari kacamata konsumen.

Cobalah berikan konsumen Anda pilihan, kontrol dan relevansi sesuai dengan pengalaman yang ingin mereka rasakan. Jangan keburu meletakkan pemisah antara target konsumen Anda dengan cerita, gambar, video atau atribut iklan apapun yang ingin mereka lihat. Cari cara-cara kreatif dan ciptakan pengalaman yang menggelitik dan memberi nilai tambah yang relevan pada konten situs Anda secara menyeluruh, yang membuat pengunjung Anda akan mau mengklik, membaca, dan berinteraksi di dalamnya. Buatlah konten yang diinisiasi oleh usernya sendiri, yang memudahkan mereka untuk memulai dan mengakhiri interaksi tanpa ada batasan atau paksaan. Daripada Anda sibuk memperhitungkan real-time bidding (RTB), cobalah mulai memasuki era real-time relevance.

 

2. Menyatu dengan konten

type-21

Dewasa ini, kita sering melihat trend iklan “native ad”, konten yang disponsori, dan meme-meme yang disesaki dengan konten berbanderol brand. Namun, sebenarnya tak ada hal yang baru yang bisa kita pelajari dari sana. Sebaliknya, apakah Anda pernah menonton tayangan sinetron di televisi?  Tahukah Anda bahwa asal muasal drama televisi adalah siaran drama di radio yang diproduksi dan dikemas oleh perusahaan-perusahaan produk konsumer. Ini bukti bahwa, bahkan jauh sebelum era digital dimulai, konsep iklan tradisional sudah mengalami perubahan, dan brand sudah menyadari kebutuhan untuk masuk ke dalam bisnis pengkaryaan konten, untuk memastikan konten yang mereka hasilkan dapat terlihat.

Namun kini, di saat konsumen sudah terlalu disesaki dengan iklan ini dan itu, bagaimana jika ternyata iklan yang ingin Anda sampaikan termasuk dalam jajaran iklan-iklan yang pada akhirnya hanya terlewatkan begitu saja, karena konsumen sudah terlalu letih? Bahkan jika konten iklan Anda luar biasa menghibur dan berguna, seperti iklan-iklan brand ternama Red Bull atau Unilever, Anda tetap harus mencari cara agar iklan Anda dilirik. Di sinilah pekerjaan rumah Anda sebenarnya: Bagaimana memastikan konten yang disajikan brand Anda dengan mudah ditemukan oleh konsumen yang sudah dijejali jutaan iklan dari puluhan kanal informasi yang bisa mereka tentukan sendiri?

Arahkan perhatian Anda pada area yang menjadi fokus dari konsumen Anda, baik itu secara online, melalui perangkat bergerak, ataupun melalui komputer tablet. Pastikan konten Anda bisa ditemukan melalui teknologi pengiklanan online yang bisa menjadi bahan perbincangan orang-orang, di mana iklan yang relevan dan pengayaan konten bisa menciptakan impresi yang mendalam dalam benak konsumen.

 

3. Sederhanakan strategi

To-DO-List

Daripada Anda menghabiskan banyak daya dan upaya merancang pemasaran online di mobile, dan di tablet, dan di desktop yang berbeda-beda, mengapa tidak Anda fokuskan perhatian Anda pada perangkat bergerak (mobile) terlebih dulu? Dari sana, Anda bisa memperbaiki dan menyempurnakan desain konten Anda sesuai dengan platform yang Anda gunakan.

Brand kini dapat merespon secara langsung dengan kebiasaan konsumen berinteraksi dengan berbagai macam perangkat digital. Di masa kita dapat dengan mudah menggeser, memperbesar, dan membagikan sebuah iklan ataupun konten brand yang bermanfaat, tidak akan cukup jika kita hanya mengandalkan pendekatan kreatif tempo dulu saja. Brand perlu meningkatkan asset berharga mereka dengan eksekusi kreatif yang luar biasa, dengan cara yang memberikan pengaruh besar, dan mencengangkan, baik dari segi perangkat, konteks, maupun format.

Berbekal tiga tips sederhana tadi, Anda akan mampu membuat perbedaan di tengah-tengah padatnya persaingan di dalam industri digital.

———————————————————————————————————————-

Tentunya Anda tidak ingin melewatkan artikel yang tidak kalah menarik bagi Anda dan bisnis online Anda: 9 Cara Untuk Mengembangkan Bisnis Online Anda

Untuk Anda yang ingin mengetahui update terbaru seputar bisnis dan dunia desain, Anda juga dapat bergabung di jejaring sosial kami, seperti di Google+, Facebook, Twitter dan LinkedIn, atau membaca artikel-artikel inspiratif Sribu.

*) Credits:

Mashable.com


Ryan Gondokusumo

Ryan adalah founder dari Sribulancer, platform untuk mencari freelancer berkualitas dengan cepat dan tepat dan founder Sribu, platform jasa desain grafis online yang telah membantu lebih dari 2.000+ pelanggan. Spesialis UI dan UX design, team building, pengembangan produk, strategic marketing, digital marketing. Anda dapat ngobrol dengan Ryan di twitter via @redjohn_G