8 Tips Esensial untuk Pengembangan Bisnis Anda

Ada banyak kesimpang-siuran yang melingkupi sebuah jabatan “Business Development”. Apakah posisi tersebut sedemikian dibutuhkannya dalam perusahaan? Apa saja lingkup pekerjaannya? Seperti apa kriteria calon karyawan yang cocok menduduki kursinya? Bagaimana menilai efektivitas kerjanya?

Meskipun titel pekerjaannya adalah Business Development, yang bila diterjemahkan berarti Pengembangan Bisnis, namun sebenarnya cakupan pekerjaan orang yang akan menduduki posisi ini lebih dari sekedar mencari celah untuk mengembangkan bisnis. Mereka harus cerdas membaca tren, pintar menganalisa situasi, dan mampu mengambil keputusan-keputusan yang tepat, yang akan mendatangkan lebih banyak keuntungan bagi perusahaan. Peran strategis inilah yang pada akhirnya membuat para CEO dan pemilik usaha was-was, dan memilih bertanya kepada konsultan SDM, “Apabila kami ingin mempekerjakan seorang Business Developer, orang dengan kapabilitas seperti apa yang akan Anda rekomendasikan?”

Biasanya, posisi Business Development sendiri hanya akan ditemui di perusahaan-perusahaan besar, sementara perusahaan-perusahaan skala kecil hingga menengah memilih menyisipkan peran kerja pengembangan bisnis itu di antara deskripsi pekerjaan beberapa posisi manajerial lainnya. Inilah yang terkadang menyulitkan para pebisnis untuk menentukan siapa orang yang paling tepat untuk dipekerjakan, apa saja yang harus dikerjakannya nanti, dan bagaimana perusahaan dapat memonitor sepak terjang dan efektivitas pekerjaannya.

Jika Anda pemilik usaha startup yang sedang mencari posisi Business Development untuk mengembangkan bisnis online atau offline Anda, maka artikel berikut ini layak disimak, karena akan membahas tuntas mengenai kunci sukses pengembangan bisnis untuk perusahaan pemula, termasuk cara-cara untuk menghindari kejadian-kejadian yang melibatkan Business Development (BizDev) yang seringkali membuat frustasi.

 

1. Pekerjakan Orang yang Tepat di Saat yang Tepat

04.14.11-3-Rules-for-Effective-Informational-Interviewing

Apakah seorang business developer yang memiliki pengetahuan mendalam terhadap bidang usaha Anda, dan jaringan kemitraan yang luas dan siap untuk menelurkan “deal” dengan Anda selalu yang terbaik? Belum tentu. Sebaliknya, mereka bisa saja menjadi malapetaka jika dipekerjakan pada siklus hidup perusahaan yang terlalu dini. Untuk Anda ketahui, ada tiga tahapan proses komersialisasi – dan belum tentu semua orang cocok menempati posisi Biz Dev pada masing-masing tahapan itu.

– Scouting: Ini adalah fase paling awal dari sebuah perusahaan. Pada tahap ini, fungsi utama Biz Dev adalah untuk membidik target market yang tepat dan mencari jalur-jalur yang bisa ditempuh mempenetrasi-nya. Mengidentifikasi hal-hal yang bisa menjadi nilai jual perusahaan, dan menyediakan umpan balik berupa tren pasar teraktual untuk tim internal. Kemampuan untuk bekerja bersama dengan tim pengembangan produk dan teknisi akan menjadi kemampuan kunci yang harus dimiliki. Bagi yang ingin tahu cara untuk menentukan target market yang harus kita bidik, dapat membaca artikel ini.

– Testing: Pada tahap ini, Biz Dev seharusnya sudah mampu menelurkan beberapa kesepakatan untuk menguji prediksi-prediksi pasar yang telah Anda buat, dan menyediakan masukan terukur sebelum Anda mulai menghitung besarnya target pasar Anda secara pasti. Kemampuan analisa yang baik untuk merancang sebuah kerangka berpikir yang akan memudahkan dalam proses penentuan kriteria-kriteria pengukuran, serta untuk mempelajari data, akan membantu menetapkan apakah perusahaan benar-benar perlu melakukan pengukuran pasar, dan bila ya, di mana pengukuran tersebut seharusnya dilakukan, tergantung pada kekuatan dan visi perusahaan itu sendiri.

– Scaling: Setelah mengumpulkan data-data dari kesepakatan-kesepakatan awal, dan memvalidasi jalur yang akan membantu Anda meraih goal, pada tahap ini Biz Dev seharusnya sudah mampu untuk mulai melipatgandakan kesepakatan dengan pihak ketiga, dan meletakkan struktur penyokong di tempat yang tepat.

 

2. Pengembangan Bisnis Tidak Selalu Mengenai Sales

Enjoying the sun

Secara umum, Biz Dev akan mengidentifikasi dan membangun kemitraan yang menambah nilai jual perusahaan, untuk akhirnya menarik pemasukan, distribusi, ataupun meningkatkan nilai yang dikandung produk atau jasa yang dipasarkan itu sendiri. Hal ini jelas berbeda dengan Sales, yang hampir selalu terfokus pada cara-cara untuk mendatangkan pemasukan yang lebih banyak bagi perusahaan. Perbedaan serupa akan terlihat saat Anda mencoba memutuskan untuk mempekerjakan sales leader pada tahap awal pembentukan perusahaan, atau saat perusahaan sudah berada pada tahap yang lebih dewasa.

 

3. Manajemen Pasca-Kesepakatan Sangatlah Penting

Semua kesepakatan yang sukses berangkat dari kredibilitas dan proaktivitas manajemen – yang pada hal ini diwakili oleh tim Biz Dev dan Account Management. Pada kebanyakan kasus, si account manager bukanlah orang yang sama dengan orang Biz Dev yang pada awalnya meng-goal-kan kesepakatan. Idealnya, account manager akan menawarkan kompensasi dan insentif yang beragam terkait dengan pemenuhan gol yang ditetapkan bersama oleh kedua belah pihak. Jika Anda belum merasa siap untuk mengalokasikan satu orang tambahan lagi untuk menyokong kesepakatan dengan pihak ketiga, maka sebaiknya pikir dua kali sebelum menerima kesepakatan tersebut.

 

4. Kualitatif vs Kuantitatif

Perusahaan terkadang mencoba untuk membangun bisnisnya murni hanya dengan mengandalkan proposisi kualitatif semata, yang mana sangatlah sulit dan memiliki risiko kegagalan yang lebih besar. Pasar biasanya kurang tergoda hanya dengan iming-iming pengalaman bertransaksi yang lebih baik, atau konektivitas yang lebih meningkat, bahkan jika mereka sebenarnya menyukai produk tersebut, dan menganggapnya berguna. Nilai kuantitatif, misalnya memperkecil biaya, mendatangkan lebih banyak pemasukan, menarik lebih banyak konsumen baru, dan sebagainya, akan meningkatkan kemungkinan sukses secara drastis. Salah satu cara mudah untuk selalu mengingat teori ini adalah dengan mengingat analogi alat pacu jantung vs alat bantu dengar. Jika Anda hanya bisa memiliki salah satu, yang manakah yang akan Anda pilih? Tak perlu saya berikan jawabannya lagi, kan?

 

5. Dukungan untuk Pengembangan Bisnis Sangat Dibutuhkan

konsep desain

Seorang business developer yang baik akan menyatukan sumber daya internal dengan cara sedemikian, untuk memastikan perusahaan dapat mencapai tujuan, dan harapan untuk sebuah kemitraan yang baik. Ketiadaan dukungan hampir dapat dipastikan akan mengarah pada keadaan saling menyalahkan, dan menuduh satu sama lain saat hal-hal yang tidak diharapkan mulai terjadi. Ingatlah bahwa, suka maupun duka, semua pihak yang terlibat haruslah merasakan keduanya.

 

6. Menciptakan Kerangka Berpikir untuk Menilai Kesempatan yang Ada

productivity-chart_6

Agar dapat memperoleh dukungan dari tim Anda, semua orang harus sudah paham mengapa kesepakatan tersebut sangat dibutuhkan oleh perusahaan Anda. Apakah hal itu akan menambah penghasilan, mendatangkan pelanggan-pelanggan baru, memungkinkan perusahaan merambahi pasar yang baru, atau menaikkan citra perusahaan secara vertikal? Tujuan tersebut biasanya dirangkumkan dalam sebuah bisnis plan. Ketika tujuan telah ditetapkan dengan jelas, terukur dan sesuai dengan mindset setiap orang dalam tim, maka akan lebih mudah untuk mencapainya.

 

7. Jalin Kesepakatan dengan Cermat

Ada perbedaan yang signifikan antara menjalin kerjasama dengan menjalin kerjasama yang tepat. Seorang penjalin kerjasama yang baik akan dapat membantu mengendus sinyal yang keliru, ketika ada momentum pasar dan pemasukan dengan nilai tertentu yang seolah menyamarkan besarnya kesempatan yang bersembunyi di baliknya. Sebaliknya, penjalin kerjasama yang kurang berpengalaman, atau mereka yang menawarkan pilihan-pilihan keliru dapat menghasilkan momentum yang sedang-sedang saja, yang pada akhirnya mengalihkan perusahaan dari kesempatan yang lebih baik. Sudah banyak contoh perusahaan yang terpaksa menelan pil pahit hanya karena keputusan-keputusan kerjasama yang kurang bijak, yang pada akhirnya mereka sesali. Pada tahap inilah, Anda perlu mengembangkan tingkat pemahaman dan keyakinan dengan tim pengembangan bisnis Anda.

 

8. Tidak Ada Isu Legal

Sebuah perjanjian legal mengabsahkan perjanjian kerjasama bisnis, dan termasuk di dalamnya terminologi-terminologi komersil, serta pengaturan apa yang harus dilakukan ketika perjanjian kerjasama tidak berlangsung sebagaimana yang direncanakan. Hal ini mengharuskan tim pengembangan bisnis dan konsultan legal untuk duduk bersama dan mengkalkulasi kesempatan bisnis dibandingkan dengan risiko yang akan dihadapi, dan menjelaskan kesimpulan yang akhirnya didapat kepada tim manajemen.

Kesimpulan yang bisa kami sajikan pada Anda adalah, membangun sebuah bisnis bukanlah sebuah perkara yang mudah, dan mengharuskan Anda memastikan semua hal telah berjalan sesuai dengan fungsi yang diharapkan, mulai dari produk hingga tim SDM Anda. Namun, kesempatan untuk melihat ide Anda berkembang menjadi sebuah produk, yang kemudian akan mendatangkan pemasukan, yang membuat Anda berkembang menjadi sebuah perusahaan terkemuka adalah hal yang tak ternilai harganya. Dengan memasukkan tim pengembangan bisnis yang tepat pada waktu yang tepat, dan mengikuti anjuran-anjuran lainnya yang telah kami sampaikan di atas, akan membantu memastikan perusahaan Anda berada di jalur yang semestinya.

*) Credits:

Mashable.com


Ryan Gondokusumo

Ryan adalah founder dari Sribulancer, platform untuk mencari freelancer berkualitas dengan cepat dan tepat dan founder Sribu, platform jasa desain grafis online yang telah membantu lebih dari 2.000+ pelanggan. Spesialis UI dan UX design, team building, pengembangan produk, strategic marketing, digital marketing. Anda dapat ngobrol dengan Ryan di twitter via @redjohn_G